Senin, 07 Juni 2010

THE LAST HOUSE ON THE LEFT (2009)

Sinopsis :
Setelah memperkosa dan dan membunuh 2 gadis remaja dengan sangat keji, sekelompok penjahat ikut bermalam di sebuah rumah yang ditemukannya tidak jauh dari tempat kejadian berdarah itu. Yang sialnya ternyata pemilik rumah itu adalah Orang tua dari sigadis malang korban para penjahat tersebut. Akankah si orang tua gadis malang itu tahu siapa dan apa yang telah dilakukan tamu tak diundang yang ikut menginap dirumah nya itu pada anak gadisnya…? Ingat Tagline dari film ini “IF BAD PEOPLE HURT SOMEONE YOU LOVE, HOW FAR WOULD YOU GO TO HURT THEM BACK..?


Kira-kira seperti itulah inti kisah dari film The Last House on The Left ini. Bukanlah suatu kisah yang fresh karena The Last House On The Left yang dirilis tahun 2009 ini adalah sebuah remake dari sebuah film jadul (1972) dengan title yang sama. The Last House On The Left 1972 adalah debut dari si master horror Wes Craven yang disebut2 sebagai film yang memiliki shocking point luar biasa dan beberapa reviewer menyebutkan bahwa The Last House on The Left Original (1972) ini sebagai The most disturbing film.. Akhirnya setelah hampir 4 dekade dilalui hadir juga versi baru nya yang dikomandoi oleh Dennis Iliadis sebagai sutradaranya. Hmmm sebuah nama baru dalam perfilman Hollywood, semoga aja bisa mengekor kesuksesan Alexandre Aja yang juga spesialis horror gory non-amrik yang sekarang namanya sudah diakui public amrik sebagai sineas horror yang lagi laris..si Aja itu favorit saya juga..
Jika ada sebuah Re-make, pastinya mau tidak mau penonton akan membandingkannya dengan film aslinya. Apakah lebih baik, sama saja atau malah lebih buruk dari pendahulunya. Beruntung The Last House on The Left 1972 bukanlah sebuah film berkualitas tinggi yang banjir penghargaan disana-sini. Jadi beban yang dipikul tim sukses remake nya ini tidaklah begitu berat untuk membuat sebuah karya yang lebih baik dari pendahulunya. Tapi akankah versi re-make nya ini mampu menandingi reputasi film jadulny sebagai film yang mempunyai shocking point luar biasa pada jamannya..

Setelah menonton THE LAST HOUSE ON THE LEFT 2009 versi barunya ini di DVD, bisa disimpulkan remake nya ini jauh lebih baik daripada versi originalnya. Tidak hanya satu atau dua segi aja yang lebih baik dari pendahulunya. Tapi hampir semua segi dalam remake nya ini lebih unggul dari pendahulunya. Dari pengarapan Dennis Iliadis yang lebih nyaman tapi tetap menjaga ke-brutal-an adegan-adegan nya. Dari Naskah yang lebih rapih. Dari sisi permainan para actor-aktrisnya yang lebih matang, hingga dari sinematografi, artistik designer hingga music score nya ditampilkan lebih juara dari versi originalnya. Memang bukanlah hal yang aneh atau mengejutkan mengingat film aslinya hanya disokong budget terbatas dengan aktor-aktris nya yang bermain dengan kualitas pas-pas an. Malah cenderung norak…music score nya juga menggelikan..apalagi pas adegan mary nya dikejar-kejar dihutan itu ko musik nya kaya disko gtu, malah jadi gak ada tegang2nya... Walaupun adegan adegan brutal di versi aslinya masih sangat menghentak.dan beberapa ada yang konyol...

Unsur-unsur yang terkandung dalam film The last house on the left memang bukanlah santapan seluruh keluarga yang duduk manis bersama-sama menikmati buah tangan Walt Disney. Agak Rawan jg jika 2 ABG labil yang sedang kasmaran memilih film ini sebagai tontonan di malam minggunya. The Last House On The Left diperuntukan untuk penonton yang sudah cukup stabil hati dan pikirannya. Kekerasan, kesadisan, sexual menjadi nyawa The last House on the Left. Tapi jangan kira film ini hanya melulu menjual faktor2 itu saja, emosi yang ditawarkan film ini ini juga sangat mengena. Lihatlah perubahan si Orang Tua korban dari yang begitu ramah menjadi sangat brutal tak terduga setelah mengetahui ternyata tamu tak diundang itu adalah binatang buas yang telah memangsa buah hatinya dengan sangat kejam.
Tensi ketegangan alurnya pun berhasil terjaga dengan baik hingga ending yang dijamin bisa membuat beberapa penonton berteriak atau malah bersorak. Walaupun jujur sedikit konyol. Adegan perkosaan Mary akan membuat penonton terutama wanita spontan mengutuk tokoh penjahat biadab itu. Masih ingat ketika menonton bersama kawan-kawan…(semuanya pria dewasa) pada scene biadab ini semuanya yang ada di ruangan itu diem..…Miris melihatnya. Jika ada yang menikmati adegan ini mungkin harus dipertanyakan kewarasannya.
Walaupun tidak ada satupun bintang sekelas Superstar yang mendukung film ini, tapi rata-rata semuanya bermain memuaskan. Garett Dillahunt sebagai pentolan penjahat sangat meyakinkan dan berhasil membangun kebencian luar biasa pada karakternya. Tokoh antagonis lainnya pun seperti Francis (Aaron Paul) dan Sadie (Riki Lindhome) bermain sama menyebalkannya. Dari Sisi protagonis Monica Potter bermain paling cemerlang sebagai seorang Ibu yang shock atas kejadian yang menimpa buah hatinya. Tony Goldwyn sebagai Ayah memang bermain dibawah Monica Potter tapi tetap tidak mempengaruhi keseluruhan film menjadi lemah.
Memang begitu konyol jika mengambil pesan moral berarti dari sebuah film seperti ini. Jangan samakan dengan Laskar Pelangi yang padat pesan moral atau Emak Ingin Naik Haji yang begitu menohok kalbu. Sudah pasti anda salah kamar…Ini adalah sebuah genre yang tujuan utamanya menghibur penonton dengan cara ekstrim ….memang aneh dan saya juga sulit menjelaskannya mengapa menghibur orang ko’ dengan cara menghidangkan adegan-adegan brutal seperti itu…berarti penontonnya pada “sakit”semua sehingga mau saja dimanjakan dengan darah dan kesadisan…..masih jadi misteri..mungkin kawan ada yang bisa mengemukakan alasannya…??
Jika memang harus diambil pesan moral dari The last House on the Left ini tidak sulit juga….hmmm.. Tanpa bermaksud menganjurkan balas dendam saya pikir Film ini berhasil mengingatkan penonton bahwa Orang tua mana yang tidak hancur hatinya menerima kenyataan bahwa sang buah hatinya tersakiti oleh orang tak bermoral. Dan bahkan tanpa banyak basa basi lagi akan melakukan serangan balik yang lebih buruk pada si pelakunya…sebuah peringatan keras bagi siapa saja yang punya niatan tidak baik terhadap seseorang..ingatlah bahwa akan ada balasannya….
Memang sangat klise…tp apa lagi yang mau diambil dari film sejenis ini…..

Reviewer ARI BUDIYANTO
SCORE : 8/10

nambahin. :..Jujur..sebenernya review di atas udah dibikin dari sekitar 5 bulan yang lalu, dulu ana bikin di Notes facebook , jadi yang di atas copas... biar di blog  serba baru..(orang nya baru belajar blog) ini gak terlalu kosong, hehe...
nambahin lagi..TRIVIA...(bukan trivia tentang filmnya)..(jd dibaca syukur..ga dibaca juga ga apa-apa)
-
Pertama nonton film ini pas lagi di kampung.(desa cicalung itu)..sayang bgt remote DVD nya rusak jadi nya gak bisa diganti ke bahasa indo subtitle nya.. dengan modal vocabulary yang sangat pas-pasan terpaksa saya 90% lebih mengandalkan keahlian tebak-menebak adegan di film ini arahnya kemana, banyak bgt adegan2 dialog2 yang kurang ngerti, tp yang paling bikin capek bukan karena film nya itu..tp kawan2 yang nonton bareng saat itu semuanya bener2 blank bahasa inggris dan dengan sedikit mengancam menyuruh saya menerjemahkan kata perkata.nya..padahal saya juga masih cetek bgt bahasa inggris..untung dialognya gak susah amat..itu juga paling cuma 15 menit di awal aja..kesananya..sambil agak teriak "aaah tonton aja sendiri...ntar juga ngerti".(Coba kalo ini film Pulp Fiction atu Usual Suspect tanpa subtitle...melongo bin calangap yang ada).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

DEPAN